Oleh: Amanah Pesisir
Deretan perahu kayu reyot tampak teronggok di pesisir Kalibaru, Jakarta Utara. Cat-cat lambung mulai mengelupas, papan kayu lapuk dimakan usia, dan sebagian badan perahu terlihat retak akibat terlalu lama tidak digunakan. Beberapa unit bahkan sudah dipenuhi rumput liar dan sampah pesisir. Pemandangan ini bukan sekadar potret kerusakan alat tangkap, melainkan gambaran nyata kesulitan hidup nelayan kecil yang kini semakin terdesak oleh kondisi ekonomi dan perubahan wilayah pesisir.
Perahu bernomor 761 menjadi salah satu simbol kesulitan tersebut. Dulu perahu itu rutin digunakan melaut mencari ikan di perairan Teluk Jakarta. Kini ia hanya diam di daratan, perlahan membusuk bersama harapan pemiliknya yang tak lagi mampu memperbaiki kapal.
Deretan perahu nelayan rusak di kawasan pesisir Kalibaru, Jakarta Utara.
Bagi masyarakat pesisir, perahu adalah sumber kehidupan. Tanpa perahu, nelayan tidak dapat melaut. Tanpa melaut, tidak ada penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun di Kalibaru, memperbaiki perahu kini menjadi sesuatu yang sulit dijangkau oleh nelayan kecil.
Dalam dua tahun terakhir, biaya perbaikan kapal mengalami kenaikan sangat tinggi. Mulai dari kayu, resin, cat, paku, hingga bahan bakar semuanya naik secara bersamaan. Kondisi tersebut membuat banyak nelayan memilih membiarkan perahunya rusak daripada memperbaikinya.
βPendapatan kami sekali melaut paling Rp100 ribu sampai Rp200 ribu kalau lagi bagus. Mau nabung buat benerin perahu dari mana?β
Ada tiga persoalan utama yang saat ini dirasakan langsung oleh nelayan kecil di Kalibaru. Ketiganya saling berkaitan dan memperparah kondisi ekonomi masyarakat pesisir.
Harga bahan baku pembuatan dan perbaikan kapal terus mengalami kenaikan. Kayu berkualitas untuk lambung kapal kini semakin mahal dan sulit didapat. Begitu pula dengan resin, cat khusus kapal, paku galvanis, hingga triplek laut.
Seorang nelayan menyebutkan bahwa biaya menambal satu bagian lambung yang bocor kini bisa mencapai:
Biaya tersebut sangat berat bagi nelayan tradisional yang penghasilannya tidak menentu. Dalam kondisi cuaca buruk, nelayan bahkan bisa pulang tanpa membawa hasil tangkapan sama sekali.
Masalah berikutnya adalah kenaikan harga bahan bakar minyak. Solar menjadi kebutuhan utama bagi nelayan bermesin kecil. Namun biaya melaut kini meningkat hampir dua kali lipat dibanding beberapa tahun lalu.
Dulu nelayan cukup membawa:
Sekarang biaya tersebut berubah drastis:
Akibatnya banyak nelayan merasa melaut justru berisiko merugi. Beberapa memilih berhenti sementara dan membiarkan kapal mereka terparkir di darat.
Pembangunan kawasan Tol Laut HNSE di wilayah pesisir juga membawa perubahan besar terhadap akses nelayan menuju laut. Garis pantai berubah dan beberapa jalur tradisional yang biasa digunakan nelayan kini tertutup atau harus memutar lebih jauh.
Perubahan tersebut menyebabkan:
Perahu berukuran kecil di bawah 5 GT menjadi kelompok paling terdampak. Mereka tidak memiliki kapasitas bahan bakar besar dan tidak dirancang untuk perjalanan jauh.
Perahu-perahu nelayan kecil mulai lapuk akibat tidak mampu diperbaiki.
Dari dekat, kondisi perahu-perahu tersebut terlihat sangat memprihatinkan. Kayu lambung mulai retak. Bagian dalam dipenuhi serpihan papan rusak. Beberapa sambungan patah dan sebagian lunas tampak miring akibat terlalu lama dibiarkan di darat.
Rumput liar tumbuh di sela-sela papan. Sampah plastik berserakan di sekitar kapal. Cat yang dahulu berwarna cerah kini kusam terkena panas dan hujan.
Bagi masyarakat pesisir, kondisi ini bukan hanya kerusakan fisik, tetapi simbol melemahnya kemampuan nelayan untuk bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi.
Jika kondisi ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh nelayan, tetapi juga seluruh anggota keluarga mereka.
Pendapatan yang menurun menyebabkan:
Banyak nelayan kini bekerja serabutan saat tidak melaut, mulai dari menjadi buruh angkut hingga pekerjaan harian lain yang penghasilannya jauh lebih kecil dibanding hasil melaut di masa lalu.
Melihat kondisi tersebut, Yayasan Amanah Pesisir bersama komunitas lokal menilai bahwa diperlukan langkah cepat dan nyata untuk menyelamatkan nelayan kecil Kalibaru.
Beberapa program yang dianggap mendesak antara lain:
Tanpa intervensi tersebut, jumlah perahu rusak di Kalibaru diperkirakan akan terus bertambah setiap tahun.
Masyarakat pesisir pada dasarnya tidak menolak pembangunan. Mereka memahami bahwa kawasan pesisir Jakarta terus berkembang. Namun pembangunan seharusnya tetap memperhatikan keberlangsungan hidup masyarakat lokal yang telah lama menggantungkan hidup dari laut.
Nelayan kecil berharap pembangunan dapat berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat pesisir, bukan justru meminggirkan mereka.
βKalau akses laut makin jauh, BBM makin mahal, dan perahu tidak bisa diperbaiki, lama-lama nelayan kecil akan hilang sendiri.β
Deretan perahu rusak di Kalibaru adalah pesan keras tentang kondisi nelayan kecil hari ini. Mereka bukan malas bekerja. Mereka bukan menyerah pada laut. Namun biaya untuk tetap bertahan sudah berada di luar kemampuan mereka.
Jika tidak ada perhatian serius, maka satu per satu perahu akan membusuk di daratan, dan perlahan identitas kampung nelayan akan hilang bersama hilangnya mata pencaharian masyarakat pesisir.
Perahu bagi nelayan bukan sekadar alat transportasi.
Perahu adalah sumber kehidupan.
Dan ketika perahu tak lagi bisa berlayar, maka harapan pun ikut terdampar.