Di kawasan pesisir Kalibaru, denyut kehidupan masyarakat nelayan tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut. Di balik aroma asin laut dan teriknya matahari, terdapat perjuangan para perajin belah teri yang setiap hari bekerja dengan ketelitian tinggi demi membantu ekonomi keluarga.
Proses produksi teri dimulai dari penangkapan ikan teri oleh nelayan, kemudian dilakukan pengasinan sebelum dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa hari. Setelah cukup kering, ikan teri kemudian dibawa ke rumah-rumah perajin untuk dibelah secara manual menggunakan tangan.
"Penjemuran Ikan Teri"
"Perajin Membelah Teri"
Pekerjaan membelah teri bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan kesabaran, kecepatan, dan ketelitian agar hasil belahan tetap rapi dan berkualitas. Satu kardus teri dengan berat sekitar 10 hingga 12 kilogram hanya dihargai antara Rp30.000 hingga Rp35.000.
Ironi memang. Tenaga dan waktu yang dicurahkan begitu besar, namun upah yang diterima masih tergolong rendah. Meski demikian, pekerjaan ini tetap menjadi pilihan bagi sebagian besar ibu rumah tangga nelayan di Kalibaru dibanding harus menganggur tanpa penghasilan.
Bagi mereka, hasil dari membelah teri setidaknya dapat membantu memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga, membeli beras, kebutuhan sekolah anak, hingga tambahan biaya hidup sehari-hari.
Aktivitas ini juga menjadi bagian dari roda ekonomi pesisir yang terus bertahan di tengah tekanan ekonomi dan minimnya perhatian terhadap kesejahteraan pekerja sektor pengolahan hasil laut tradisional.
Harapan masyarakat pesisir Kalibaru sederhana: adanya perhatian lebih terhadap harga hasil olahan laut dan kesejahteraan para pekerja kecil yang selama ini menjadi bagian penting dari rantai produksi perikanan tradisional Indonesia.