Budaya menyalahkan orang lain saat gagal menghambat kemajuan. Islam mengajarkan muhasabah, tanggung jawab, dan perbaikan diri sebagai solusi.
Di tengah kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, maupun berbangsa, masih sering ditemukan fenomena yang menghambat kemajuan bersama. Ketika sebuah program, proyek, atau usaha mencapai keberhasilan, banyak pihak berlomba-lomba mengklaim diri sebagai sosok paling berjasa. Namun saat kegagalan terjadi, tanggung jawab justru dilemparkan kepada orang lain, keadaan, atau situasi yang dianggap sebagai penyebab utama.
Fenomena ini merupakan bentuk egoisme yang kerap muncul dalam kehidupan sosial. Seseorang merasa bahwa keberhasilan tidak akan tercapai tanpa kontribusinya. Dalam pembangunan masjid misalnya, ada yang merasa bangunan tersebut berdiri karena bantuan yang ia berikan. Padahal, setiap keberhasilan merupakan hasil kerja sama banyak pihak dan di atas semuanya merupakan karunia Allah SWT yang menghadirkan berbagai sebab dan kemudahan.
Sebaliknya, ketika menghadapi kegagalan, sebagian orang cenderung mencari kambing hitam. Mereka menyalahkan rekan kerja, lingkungan, kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, bahkan cuaca. Sikap ini tampak sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat merugikan. Ketika seseorang sibuk menyalahkan pihak lain, ia kehilangan kesempatan untuk melakukan evaluasi diri. Tanpa evaluasi, tidak akan ada perbaikan, dan tanpa perbaikan tidak akan lahir kemajuan.
Al-Qur'an mengingatkan bahwa keburukan yang menimpa manusia sering kali merupakan akibat dari perbuatannya sendiri.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 79:
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan dirimu sendiri."Ayat ini mengajarkan pentingnya keberanian untuk mengakui kekurangan dan bertanggung jawab atas setiap tindakan.
Islam juga mengajarkan bahwa perubahan tidak dimulai dari keadaan luar, melainkan dari perubahan dalam diri manusia.
Dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11
Disebutkan bahwa :Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
Pesan ini menegaskan bahwa kemajuan tidak ditentukan oleh kondisi semata, tetapi oleh cara manusia merespons kondisi tersebut.
Rasulullah SAW juga mengingatkan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Dalam hadits riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan diri dan mempersiapkan kehidupan setelah kematian. Sikap ini berlawanan dengan kebiasaan mencari alasan dan menyalahkan pihak lain atas setiap kegagalan yang dialami.
Kemajuan individu maupun masyarakat hanya dapat terwujud apabila budaya menyalahkan digantikan dengan budaya tanggung jawab. Keberanian untuk berkata, "Ini tanggung jawab saya dan saya akan memperbaikinya," merupakan langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. Dari sikap inilah lahir pribadi yang kuat, organisasi yang sehat, dan bangsa yang mampu berkembang menghadapi berbagai tantangan zaman.
Disajikan oleh: Ustadz Amanu
Alumni Santri Salaf Tegal Rejo, Magelang.